True, They offer you Life and Money, Indonesian Rubyist!

Posted: February 23, 2007 in ノート, CAMPUR CAMPUR, RUBY, Ruby on Rails, Technology

begin

Quite often, Indonesian Rubyists asked me whether or not it’s true that Foreigners often offer us (via email) Life and Money (read: Jobs), whether abroad or in Indonesia.

I also even got called quite a lot about this, they’re even ready to let us view their prototype, blueprint, and source code so that we can continue their source code.

So for all of you Indonesian Rubyists, just don’t worry. Be wise and go on living on the path of Ruby.

May Ruby be with you.

Terjemahan:

Cukup sering Indonesian Rubyists nanya ke gw soal beneran apa nggak sih pada banyak bule/orang-orang yang nawarin kita kerjaan, kehidupan dan duit (baca: kerjaan/proyek), lewat email, apakah itu di luar negri atau di Indonesia.

Gw juga lumayan sering bahkan di telpon beberapa kali soal ini, mereka bahkan siap kasih lihat kita tentang prototype, blueprint dan source code yang sudah ada supaya kita bisa ngelanjutin kerjaan tsb.

Jadi buat semua Rubyist Indonesia, gak usah khawatir ya. Jadi bersikaplah bijak dan teruskan saja hidup di jalan hidup Ruby.

Semoga Ruby bersama kalian.

end

Nambahin, khusus buat yang tawaran di luar negri, perlu dipertimbangkan juga tentang kehidupan yang didapat disana bagaimana. Perhitungkan masak-masak biaya pemasukan dan pengeluaran dengan besar gaji yang sekitar 50-an ribu dolar di Jepang. Ataupun 70-an ribu hingga 100-an ribu dolar di Amerika. Perhatikan biaya hidup disana termasuk kota metropolitan seperti Tokyo, London, Paris kah atau tidak metropolitan. Gw nemu blog bagus loh tentang finance oleh Bu Edratna ;-) Perhatikan fasilitas-fasilitas apa aja yang didapat, seperti: asuransi kesehatan, ongkos transport, ongkos makan, fasilitas rumah/tempat tinggal/apartemen. Buat Rubyist yang uda pada berkeluarga berarti tambah musti mikir lagi deh (mikir beliin susu anaknya, ganti popok, kesehatan bini).

Ingat, perhitungan kenyamanan kerja itu bukan cuma dipandang dengan uang semata, walau tak bisa dipungkiri, uang adalah alat penting untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, perhatikan juga aspek-aspek lain selain uang, misalnya suasana apakah monoton, serius, hangat, dingin, panas, sering marah-marah, friendly, sok jadi bos, suka mencemooh, suka menjatuhkan, suka memotivasi, bersifat kekeluargaan, bersifat apa-apa harus ada hitungan uangnya, loyalitas, percaya diri, suasana bebas, suasana harus berseragam, dll

Gak kalah penting budaya setempat, mis. kalau di Jakarta berarti tentu budaya nya pasti beda dengan Semarang (Yogya/Solo) yang serba pekewuh ungguh inggih. Orang-orang Jepang itu budayanya halus, lebih halus daripada orang Solo. Orang Jepang nggak kenal budaya tawar-menawar, jepang gak akan basa-basi, sekali bilang iya maka iya, bilang tidak maka tidak (Tegas bener) (jadi perhatikan tawaran gajinya), dan mereka cenderung taat/patuh pada atasan apapun juga (jadi perhatikan regulasi perusahaan tsb). Jepang juga biasa sangat perhatian dengan pekerjanya (bahasa kasarnya ya fasilitas memang lebih nyaman or banyak didapat ketimbang besarnya gaji dibanding kalau cari nafkah di Eropa). Perhatian itu termasuk sampai urusan cuti (jadi kerja tu bener-bener, cuti ya bener-bener cuti), sampai ke urusan kesehatan. Kalau memang sudah siap dengan tabiat ungguh inggih tersebut yang kental di Jepang, silakan saja. Begitu juga soal tempat tinggal, jangan sampai nyesal kalau di Jepang ternyata, ambil contoh di Tokyo, biaya hidup mahal, tempat tinggal mahal, dll, padahal tempat tinggal nya sempit (tingkat kata sempit digunakan dibanding dengan Indonesia sendiri, apalagi Eropa (termasuk Amrik, Ostrali, Canada ini gw sebut juga deh karna bukan termasuk di Benua Eropa) yang biasa nyaman dengan tempat yang serba luas). Dan disana orang-orang nya pekerja keras. Kalau ditawarin di Itali ato di Spanyol masih mending ada budaya jam ngaret kayak di Indonesia juga. Untuk Belanda, jangan khawatir dengan makanan Indonesia. Kalau Korea ya musti siap juga dengan main tangan mereka, orang Jepang meski tegas tapi nggak sampe mukul / main tangan kayak Korea, maklum mereka bahkan dapet disiplin wajib militer. Arghh this blog should be my catetan tercecer about Ruby, not about this life, however, sori pemirsa (pletak! emangnya TV!), bisa baca buku2 referensi ke negara yang bersangkutan aja ya. Terutama buat orang-orang Ruby dan orang-orang Rails yang uda nanya-nanya ke gw. Tolong jangan bilang gw cuma kasi impresi negatif doang tentang negara2 tertentu yg gw sebut diatas, itu semata-mata cuma keterbatasan waktu gw untuk posting di blog gw ini doang, bukan mo ngejelek-jelekin atau ngebagus-bagusin biar pada hidup disana. Intinya melatih diri agar bisa bijaksana aja, nggak ada yang sempurna, semua negara, semua perusahaan itu pasti ada baik buruknya, tinggal bagaimana menyikapinya.

Note: [1] Subjek Topik ini berlaku untuk orang Ruby dan juga orang Rails. [2] Please do not push us to tell you who and who and who and who got offered Life (jobs, money, projects) by Blond/people out there. We respect everyone’s privacy. It’s enough saying that here this way, alright. Of course we won’t give them your privacy, they know you by their own methods. Terutama mereka memang pada tau aja siapa-siapa yang pada aktif di milis id-ruby buat ditawarin kerjaan. But hey, anyway, isn’t that nice 4 the sake of weird and full of magic power genius like y’all guys, Indonesian Rubyists? ;-)

Comments
  1. Hendy Irawan says:

    Wah, thank you banget mas Arie atas advice-nya…

    Boleh tau kalo di Australia itu kaya gimana yach???

  2. ariekeren says:

    Gw belum pernah ke Australia. Tapi teman dekat gw yang pernah kesana (ngelanjutin Kuliah) cerita begini: orang Aussie lebih friendly ketimbang orang Amrik, pas ketemu negor: “How are you? Are you fine? kedinginan ya?”, walaupun sepanjang pengetahuan gw, bule memang rata-rata ngerasa Ras mereka lebih tinggi daripada kita. Jadi lebih baik kita udah siap bekal duluan ketimbang langsung di negri orang sana sambil belajar, lebih2 lagi bila kita punya kelemahan di bahasa (mis. seperti prancis or jepang itu) sementara orang2 ngomong ya bahasa itu (kalo ada yg bisa Inggris = dikit). Bule-bule ini menurut gw lebih sopan. Well, tentu Bule Amrik juga ada kelebihan juga sih, seperti budaya keterbukaan mereka (walau bisa juga dianggap kasar oleh orang yang berbudaya selain Amrik).

tinggalkan feedback konstruktif atau lebih baik diam

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s